Perjalanan Karir Ratna Darmawan Sebagai Seorang Lighting Designer

Published by

Posted on May 22, 2017

Lulus dari jurusan Teknik Informatika dan Statistika dari Universitas Binus, tidak menutup kemungkinan bagi seorang Ratna Darmawan untuk merintis karirnya sebagai seorang desainer lighting. Seusai lulus dari bangku kuliah, Ratna mulai bekerja di sekaligus dua perusahaan yang bergerak di bidang lighting, yakni Interbak dan LDS, yang masing-masing bergerak di bidang produk pencahayaan dan konsultan desain pencahayaan. Ratna bekerja di kedua perusahaan tersebut selama empat setengah tahun, sebelum akhirnya di tahun 2010 ia memutuskan untuk membentuk sendiri sebuah konsultan desain pencahayaan yang dinamakan SSA Lighting.

Secara eksklusif kepada tim Berriestore, Ratna Darmawan menceritakan perjalanan karirnya sebagai seorang lighting designer. Profesi yang masih terbilang jarang di industri desain lokal. Berikut hasil perbincangan Berriestore dan Ratna Darmawan.

Berriestore (B): Bagaimana awalnya Anda memutuskan untuk terjun sebagai seorang lighting designer?

Ratna Darmawan (RD): Karena sebelumnya saya kebetulan kerja di bidang yang sama. Setiap kali saya menyelesaikan sebuah proyek desain lighting saya memiliki kepuasan tersendiri.

B: Apa atau siapa yang paling menginspirasi Anda dalam berkarya?

RD: Yang terus mendorong saya untuk mendirikan konsultan lighting sendiri adalah suami dan ayah saya. Tadinya saya merasa belum percaya diri dan sempat meragukan pengalaman saya untuk bekerja sama dengan para klien yang mempercayakan proyek mereka kepada saya.

 

B: Deskripsikan personal style Anda dalam 5 kata.

RD: Simpel, monokrom, minimalis, fungsional, stylish

 

B: Bagaimana menurut Anda mengenai tren desain lighting di Indonesia?

RD: Saat ini, masyarakat Indonesia mulai paham bahwa lighting juga dibutuhkan untuk menciptakan sebuah karya desain yang baik. Jika arsitektur dan interiornya sudah bagus tetapi tidak didukung desain pencahayaan yang baik, semuanya akan sia-sia. Tetapi dengan desain pencahayaan yang tepat, sebuah karya desain akan terlihat lebih berkelas. 

 

B: Apakah tantangan terbesar Anda dalam berkarir sebagai seorang lighting designer?

RD: Untuk menjelaskan ke klien yang masih belum mengerti peran desain pencahayaan dalam menghasilkan sebuah karya desain yang baik. Serta nilai tambah yang bisa didapatkan dengan menggunakan sistem pencahayaan yang didesain secara tepat. 

 

B: Apakah Anda memiliki proyek impian?

RD: Saya ingin menangani proyek berupa Gereja Katholik. Kebetulan saya juga memeluk agama Katholik. Saya sudah pernah mengerjakan Vihara dan Gereja Kristen Protestan, namun belum memiliki kesempatan untuk mengerjakan gereja bagi umat Katholik. 

 

B: Siapa lighting designer favorit Anda?  

RD: Andre Tammes

 

B: Jika Anda diberikan kesempatan berkolaborasi, dengan siapakah itu?

RD: Zaha Hadid, karena karyanya out of the box, sayangnya beliau sudah meninggal.

 

B: Jika saat ini Anda tidak berkarir sebagai lighting designer, kira-kira saat ini Anda sedang berada dimana dan melakukan apa?

RD: Awalnya saya bercita-cita menjadi ibu rumah tangga sembari bekerja, tentunya dengan waktu yang fleksibel. Rasanya sekarang saya sudah berada di posisi itu, tepatnya menjadi seorang lighting designer yang bisa bekerja dari rumah atau darimana saja.

Karya Ratna Darmawan untuk BRG House berkolaborasi dengan arsitek Tan Tik Lam

Karya Ratna Darmawan di proyek Kemang Residence berkolaborasi dengan arsitek Kusuma Agustianto

Karya Ratna Darmawan untuk interior Valentino Ristorante berkolaborasi dengan SHS Associates

Karya Ratna Darmawan untuk rumah tinggal di kawasan BSD berkolaborasi dengan arsitek Yori Antar

Karya Ratna Darmawan untuk arsitektur hotel Akmani di Legian berkolaborasi dengan TWS & Partners

Teks Ria Iskandar
Fotografi dok. Ratna Darmawan

ADD A COMMENT