Obsesi Berujung Profesi

Published by

Posted on October 30, 2017

Surreal, obsessive, fireworks. Ketiganya dianggap Margaret Yap sebagai kata-kata yang paling mendeskripsikan dirinya. Usai menuntaskan pendidikan jurusan Interior Architecture di Lasalle College of Arts, Singapura, ia pun merintis karir sebagai seorang desainer grafis lepasan. Di saat yang bersamaan, Margaret juga mengaku aktif terlibat dalam beberapa kegiatan pameran seni lukis. Tidak berhenti di sana, ia juga meluncurkan label fashion independen dan menerbitkan buku anak-anak. Seakan memiliki hasrat kreativitas yang tidak terbendung, setelah setahun ia aktif menjalani keseharian sebagai pelaku kreatif, Margaret pun memutuskan untuk mengembangkan karirnya di Suar Artspace, yakni galeri seni tempatnya bekerja hingga saat ini.

Lahir di tengah keluarga keturunan China yang identik berprofesi di bidang hukum dan sains, Margaret justru melawan arus dengan ketertarikannya di dunia seni. Tidak jarang ia menuai banyak kritik dan dipandang sebelah mata. Namun seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap seni memang tidak dapat dipungkiri. Hal ini turut dibuktikan dengan profesi sebagai seorang seniman yang hingga hari ini ditekuninya.

Simak lebih lanjut diskusi inspiratif antara tim Berriestore dan Margaret Yap.

Berriestore (B): Apa atau siapa inspirasi terbesar Anda dalam berkarya?

Margaret Yap (MY): Alam. Human’s emotions. Diri saya sendiri. Saya senang melihat dan mencari corak di setiap benda. Hal yang paling dekat, paling saya mengerti ,dan tidak mengerti adalah diri saya sendiri.

B: Bagaimana awal Anda memutuskan untuk terjun di dunia seni keramik?

MY: Saat saya kuliah, saya sudah ingin mencoba medium keramik, tapi tidak ada waktu dan kesempatan untuk belajar. Setelah kembali ke Indonesia, saya tidak tahu di mana harus mencari pengajar dan pada saat itu saya masih fokus pada dunia seni lukis. Saya merasa perlu menambah keahlian lain untuk bertahan di dunia seni yang by default orang-orang bisa menggambar dan dijadikan karya. Memang sudah tertarik sejak lama, akhirnya saya mencari tempat yang mengajar keramik. Saya bahkan berpikir untuk mengambil kuliah lagi di ITB dengan jurusan keramik. Selain saya bisa bereksperimentasi mengkolaborasi gambar saya (2D) dan keramik (3D), saya merasa keramik lebih memiliki harga karena punya fungsi pakai, tidak seperti gambar dua dimensi yang biasanya hanya jadi dekorasi.

B: Bagi Anda, apa yang paling istimewa dari medium keramik?

MY: Proses dan possibilities. Bagaimana proses itu begitu penting, begitu panjang. Ada ribuan cara untuk menghasilkan warna yang baru, bentuk yang baru, teknik yang baru.

B: Siapa yang akan Anda pilih jika Anda mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi?

MY: Sejujurnya saya tidak tahu. Kalau sesama seniman, saya memilih untuk berkarya sendiri, mendalami ide-ide sendiri. Tapi saya sempat menggandrungi perihal autisme. Jadi kalau saya akan berkolaborasi, saya berpikir untuk berkolaborasi dengan penderita autisme, anak-anak maupun dewasa.

B: Apa moto hidup Anda?

MY: Carpe diem.

B: Bagaimana regenerasi industri seni di Indonesia dari pandangan Anda?

MY: Sudah jauh lebih terbuka. Acara seni dan kreatif sudah mulai bertebaran. Minat anak muda untuk berkesenian sudah mulai dihargai oleh publik.

B: Menurut Anda, apa kontribusi terbesar generasi millennial dalam industri seni saat ini?

MY: Keterbukaan dan kreativitas. Saya sangat menyukai tradisi. Tapi kolot adalah hal yang berbeda, kekolotan memangkas kemungkinan. Generasi millennial menurut saya membuka pandangan dan peluang baru bagi dunia seni.

B: Bagaimana Anda memandang diri Anda sepuluh tahun ke depan sebagai seorang seniman?

MY: Nama saya dikenal, karya saya dikenal.

B: Apa yang biasanya Anda lakukan saat tidak sedang bekerja?

MY: Travelling. Travelling itu seperti mendapat jackpot, saya dapat olahraga, melihat dunia luar, dan keluar dari rutinitas. Saya menikmati kultur budaya serta arsitektur, dan aktivitas ini mengasah mata untuk melihat sesuatu dari sudut lain.

B: Apa yang terlintas di benak Anda jika saat ini Anda tidak berprofesi sebagai seorang seniman. Kira-kira dimana Anda saat ini dan sedang melakukan apa?

MY: Dokter bedah. Saya agak terobsesi dengan ‘ide’ menciptakan dan mengontrol. Sama halnya dengan menulis, melukis, dan membuat keramik, saya menciptakan sebuah wujud, obyek, atau subyek, dan saya memiliki kontrol pun kebebasan untuk membentuk, membunuh atau mengulik lebih lanjut hal tersebut. Dokter bedah biarpun bukan Tuhan, tapi memegang kontrol atas kehidupan seseorang. Selain itu, saya menyukai bagaimana menjadi dokter itu terus belajar dan terus menambah pengetahuan, proses panjang yang menurut saya memuaskan pada akhirnya.

2. Koleksi scarf Forestry

3. Animals Abstraction untuk kemasan kopi

4. The Beginning Series 1

5. The Beginning Series 2

6. The Beginning Series 3

7. The Beginning Series 4

Teks Ria Iskandar
Fotografi dok. Margaret Yap

Karya-karya Margaret Yap akan segera hadir di berriestore.com

ADD A COMMENT